Tes Amniosentesis

Oleh: dr. Med. Damar Prasmusinto, Sp.OG(K)

Pemeriksaan amniosentesis bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan atau abnormalitas kromosom, defek tuba neuralis, dan kelainan genetik lainnya pada janin. Selain itu juga berguna untuk memeriksa kematangan paru janin pada kehamilan yang lanjut atau untuk kepentingan hukum, seperti tes DNA untuk menentukan siapa ayah dari bayi yang dikandung seorang ibu.

Bagaimana prosesnya?

Amniosentesis dilakukan dengan mengambil cairan ketuban menggunakan jarum suntik khusus melalui perut ibu. Umumnya tes amniosentesis ini dipandu dengan USG (ultrasonografi). Di dalam cairan amnion terdapat sel fetal (kebanyakan kulit janin) yang dapat dilakukan analisis kromosom, analisis biokimia dan biologi. Cairan yang diambil sekitar 20 ml. Hasilnya dapat diketahui dalam waktu 2 minggu.

Kapan dilakukan?

Dokter akan mengusulkan tes amniosentesis jika ada indikasi bahwa bayi yang dikandung memiliki risiko tinggi terhadap suatu penyakit atau kelainan genetik. Misalnya jika ibu pernah melahirkan bayi dengan kelainan bawaan, ada riwayat kelainan bawaan di keluarga, umur ibu lebih dari 35 tahun, atau pada pemeriksaan skrining pranatal diduga ada kelainan pada bayinya.

Amniosentesis untuk mendeteksi kelainan bawaan dilakukan pada usia kehamilan 15-20 minggu. Pada keadaan tertentu bisa juga dilakukan di usia kehamilan yang lebih muda.

Tes ini juga memiliki risiko, antara lain keguguran, ketuban pecah, dan kelainan pada alat gerak. Sebelum melakukan tindakan ini sebaiknya diperoleh konseling genetik untuk mendapatkan gambaran kemungkinan apa saja yang dihadapi.

Deteksi cerebral palsy

Salah satu kelainan bawaan yang paling dikhawatirkan oleh ibu-ibu yang hamil di usia lebih dari  35 tahun adalah jika bayi yang dilahirkan mengalami cerebral palsy. Anak-anak yang menderita kelainan ini tidak mampu mengontrol gerakan ototnya, mempunyai intelektualitas yang rendah, gangguan belajar, kejang, atau masalah pada penglihatan, pendengaran dan bicara.

Cerebral palsy disebabkan gangguan pada perkembangan otak normal sebelum lahir. Dapat disebabkan oleh kelainan genetik, kerusakan perkembangan otak, atau pada sebagian kecil otak bayi kekurangan oksigen karena trauma persalinan. Risiko cerebral palsy antara lain pada bayi prematur, terjadi infeksi selama kehamilan, insufisiensi plasenta, asfiksia selama persalinan,  atau bayi kuning yang berat.

Pada kasus tertentu, ibu memang perlu melakukan pemeriksaan amniosentesis. Namun tentu saja sebaiknya didiskusikan secara mendalam dengan dokter kandungan. Beberapa pemeriksaan pendahuluan mungkin perlu dilakukan sebelum memutuskan untuk melakukan amniosentesis. Kemudian perlu juga diketahui apa yang harus dilakukan bila diagnosis kelainan penyakit tertentu diperoleh.

Artikel ini disadur dari majalah Anakku

kembali ke atas